Langsung ke konten utama

contoh PTK



PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENGUKURAN SUDUT DI KELAS V/A SDN 2 BELEKA
TAHUN PELAJARAN 2016/2017


Munzir
SDN 2 Beleka, Jln. TGH. M. Munir Desa Beleke, Kab. Lombok Barat, munzir.emen@gmail.com



ABSTRAK: Permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran matematika di kelas V/A SDN  2 Beleka adalah guru yang mendominasi pembelajaran sehingga menjadikan siswa pasif. Siswa masih dianggap sebagai objek dalam pembelajaran yang harus diberikan materi-materi ajar sehingga pembe­lajaran menjadi kurang bermakna karena hanya bersifat hafalan tanpa disertai pemahaman dan pengalaman belajar yang memadai. Dalam  pembelajaran, guru jauh lebih aktif daripada siswa. Pembelajaran seperti ini menyebabkan siswa kurang mampu memahami dengan baik materi pelajaran yang dibelajarkan dan pada akhirnya berdampak pada hasil belajar siswa menjadi rendah. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan kontekstual dalam meningkatan hasil belajar siswa pada materi pengukuran sudut di kelas V/A SDN  2 Beleka tahun pelajaran 2016/2017. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dan metode tes. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi. Berdasarkan hasil analisis data, ketuntasan klasikal yang dicapai pada siklus I adalah 74,07%, dan siklus II mencapai 85,19%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pengukuran sudut di kelas V/A SDN  2 Beleka tahun pelajaran 2016/2017.


Kata Kunci : Pendekatan Kontekstual, Hasil Belajar.

1.       Pendahuluan
Permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran matematika di kelas V/A SDN  2 Beleka adalah pembelajaran masih berpusat pada guru/teacher sentris sedangkan siswa masih dianggap sebagai objek dalam pembelajaran yang harus diberikan materi-materi ajar sehingga pembe­lajaran yang ada jadi kurang bermakna karena hanya bersifat hafalan tanpa disertai pemahaman dan pengalaman belajar yang memadai. Guru kurang percaya dan tidak terbiasa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep sendiri dan partisipasi siswa dalam pembelajaran juga kurang. Sehingga ide-ide kreatif siswa tidak dapat berkembang, kurang melatih daya nalar dan tidak terbiasa melihat alternatif lain yang mungkin dapat dipakai dalam menyelesaikan suatu masalah.
Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang diorganisasikan dalam kurikulum pendidikan nasional.Matematika adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam menyelesaikan masalah mengenai bilangan (Kamus Bahasa Indonesia Pendidikan Dasar, 2009:456).
Namun sebagai mata pelajaran,matematikamasihmenjadihal yang ditakutkansiswa kelas V/A SDN 2 Belekadandikhawatirkanhasilnyaolehsebagianbesar orang tua, bahkan guru sebagaipraktisipendidikan pun sering mengeluhkan rendahnya hasil belajar matematika siswa. Hal ini antara lain disebabkan oleh: pembelajaran matematika yang masih berpusat pada guru/teacher sentris sedangkan siswa masih dianggap sebagai objek dalam pembelajaran yang harus diberikan materi-materi ajar sehingga pembe­lajaran yang ada jadi kurang bermakna karena hanya bersifat hafalan tanpa disertai pemahaman dan pengalaman belajar yang memadai. Guru kurang percaya dan tidak terbiasa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep sendiri dan partisipasi siswa dalam pembelajaran juga kurang. Sehingga ide-ide kreatif siswa tidak dapat berkembang, kurang melatih daya nalar dan tidak terbiasa melihat alternatif lain yang mungkin dapat dipakai dalam menyelesaikan suatu masalah.
Salah satu upaya untuk menyelesaikan keadaan tersebut adalah penerapan pendekatan kontekstual yang memiliki karakter yang berbeda dengan pola pembelajaran lama yang biasa digunakan.
2.       Pendekatan Kontekstual
2.1.  Pengertian Pendekatan Kontekstual
Dalam pendekatan ini guru berperan sebagai fasilitator dan siswa yang lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga keber­maknaan dalam proses pembelajaran dapat diperoleh siswa.University of Washington (dalam Trianto, 2007:102) pembelajaran  kontekstual merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antar pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan tenaga kerja.
Pendekatan kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja dan dalam kelas yang bagaimanapun keadaannya (Depdiknas dalam Trianto, 2007:106). Sedangkan (Trianto dalam 2007:104) menyatakan bahwa sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika menerapkan ketujuh komponen dari pendekatan  kontekstual yaitu:
1.    Konstruktivisme (constructivism)
Konstruktivisme (Constructivism) adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman (Sanjaya, 2008:64).Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis yang lebih menekankan pada hasil pembelajaan. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan: a). menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, b).memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan c). menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar (Trianto, 2007 :109).
2.    Menemukan (inquiry)
Menurut Sanjaya (2008:265),inkuiri adalah proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Secara umum proses Inkuiri dapat dilakukan melalui langkah-langkah:a). merumuskan masalah, b). mengajukanhipotesis, c). mengumpulkan data, d). menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan, dan e). membuat kesimpulan.
3.    Bertanya (questioning)
Bertanyadapatdipandangsebagairefleksidarikeingintahuansetiapindividu. Bertanyadalampembelajarandipandangsebagaikegiatan guru untukmendorong, membimbingdanmenilaikemampuamberpikirsiswa.Dalamsebuahpembelajaran yang produktif, kegiatanbertanyabergunauntuk: a). menggaliinformasibaikadministrasimaupunakademis, b). mengecekpemahamansiswa, c). membangkitkanresponkepadasiswa, d). mengetahuisejauh mana keingintahuansiswa, e). mengetahuihal–hal yang sudahdiketahuisiswa, f). memfokuskanperhatiansiswapadasesuatu yang dihendaki guru, g). membangkitkanlebihbanyaklagipertanyaandarisiswa, dan h). menyegarkankembalipengetahuansiswa (Trianto, 2007:110).
4.    Masyarakat-belajar (learning community)
Konsepmasyarakatbelajar (learning community) menyarankan agar hasilpembelajarandiperolehdarikerjasamadengan orang lain.Dalamkelaskontekstual, penerapankomponenmasyarakatbelajardapatdilakukandenganmenerapkanpembelajaranmelaluikelompokbelajar.Dalamhaltertentu, guru dapatmengundang orang-orang yang dianggapmemilikikeahliankhususuntukmembelajarkansiswa(Sanjaya, 2008:267).
5.    Pemodelan (modeling)
Pemodelanadalah proses pembelajarandenganmemperagakansesuatusebagaicontoh yang dapatditiruolehsetiapsiswa. Proses modelingtidakhanyaterbataspada guru saja, akantetapidapat juga guru memanfaatkansiswa yang dianggapmemilkikemampuan(Sanjaya,2008:268).
6.    Refleksi (reflection)
Refleksiadalahcaraberpikirtentangapa yang barudipelajariatauberpikirkebelakangtentangapa-apa yang sudahdilakukan di masa lalu. Refleksidapatdilakukandengan :a). Pertanyaanlangsungtentangapa-apa yang diperolehhariitu, b) catatanataujurnalbukusiswa, c) kesandan saran siswamengenaipembelajaranhariitu, d). diskusi,  dan  e). hasilkarya(Trianto, 2007:113).
7.    Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) adalah proses yang dilakukan guru untukmengumpulkaninformasitentangperkembanganbelajaryang dilakukansiswa (Sanjaya,2008:269).Karakteristik penilaian autentik adalah: a). dilaksanakan  selama  dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, b). bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, c). yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta, d).berkesinambungan, e).terintegrasi dan g). dapat digunakan sebagi umpan balik.Sedangkan hal-hal yang dapat digunakan sebagai dasar menilai hasil siswa antara lain : a). proyek/kegiatan dan laporannya, b). PR (pekerjaan rumah), c). kuis, d). karya siswa, e). presentasi atau penampilan siswa, f). demonstrasi, g). laporan, h). jurnal, i). hasil tes tulis, dan j). karya tulis (Riyanto, 2010:176).
2.2.  Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Kontekstual
Sebagai sebuah pendekatan dalam pembelajaran, pendekatan kontekstual memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pendekatan pembelajaran kontekstual adalah: a). Memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sehingga siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. b). Siswa dapat berpikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah serta guru dapat lebih kreatif. c). Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari. d). Pemilihan informasi berdasarkan kebututuhan siswa. e). Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan. f). Membantu siswa bekerja dengan efektif dalam kelompok. g). Terbentuk kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok. Adapun kelemahan dari pendekatan ini adalah tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan penggunaan pendekatan kontekstual dan pengetahuan yang didapat siswa akan berbeda-beda tidak merata serta peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena hanya sebagai pengarah dan pembimbing.
2.3.  Penerapan Pendekatan Kontekstual
Adapun langkah-langkah pendekatan kontekstual yang diterapkan dalam penelitian tindakan kelas pada pembelajaran matematika pengukuran sudutkelas V/A SDN 2 Beleka adalah sebagai berikut:
1.    Kegiatan Awal
Pada tahap kegiatan awal guru mengadakan apersepsi dengan menampilkan model/gambar yang dipelajarai kemudian bertanya kepada siswa “apa nama sudut yang ditampilkan?” (questioning), menyampaikantujuanpembelajaran, membentuk dan meminta siswa duduk bersama kelompoknya masing-masing (learning comunity).
2.    Kegiatan Inti
Tahap kegiatan inti  dimulai dengan guru membagikanmodel/gambar yang dipelajari dan LKSpadamasing–masingkelompok (learning comunity),membimbing dan menugaskan siswa mengamati model/gambar dan LKS yang diberikan (konstruktivisme, inquiry, dan learning comunity),memberikan kesempatan kepada siswa bertanya jawab mengenai langkah penyelesaian LKS (questioning), menugaskan siswa untuk berdiskusi menyelesaikan LKS (konstruktivisme, inquiry, dan learning comunity), menugaskanperwakilankelompokuntukmelaporkandanmempresentasikanhasilkerjakelompoknya dan siswa lainnya aktif memberikan tanggapan (learning comunity),
3.    Kegiatan Akhir
Sedangkan tahap kegiatan akhir diawali dengan menugaskan siswa mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari misalnya dengan menayakan “sebutkan contoh penggunaan pengukuran sudut dalam kehidupan sehari-hari” (reflection), membimbing siswa menyimpulkan hasil pembelajaran dengan menanyakan langsung tentang apa yang diperoleh dalam pembelajaran (reflection), menugaskan siswa membuat catatan materi pembelajaran pada buku masing-masing (reflection), melakukan evaluasi dengan soal/tes evaluasi (authentic assessment), menutup pembelajaran dengan menyampaikan pesan moral.
3.       Pengumpulan Data dan Analisis Data
3.1.  Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menempuh langkah sebagai berikut:
1.    Data Aktivitas Guru dan Siswa
Pengumpulan data aktivitas guru dan siswa dilakukan supervisor pada waktu kegiatan tindakan dilakukan dengan panduan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.
2.    Data Hasil Belajar
Pengumpulan data hasil belajar dilakukan oleh guru dengan menggunakan instrumen test berbentuk soal uraian yang dikerjakan oleh siswa pada kegiatan akhir pembelajaran.
3.2.  Teknik Analisis Data
1.    Teknik Analisis Data Aktivitas Guru dan Siswa
Untuk menganalisis data aktivitas guru dan siswa digunakan model rating scale. Rating scale bertujuan untuk menyimpulkan/merangkum, mengorganisasikan dan menjumlahkan suatu akumulasi daripada observasi tingkah laku atau aktivitas siswa dan kegiatan guru (Hamalik, 2008:169).
Adapun penskoran untuk setiap deskriptor mengikuti pedoman pada tabel di bawah ini:
Tabel 1. Pedoman Penskoran Aktivitas Siswa
Skor
Kriteria
Keterangan
1
Tidak Baik
Jika deskriptor yang diamati tampak pada < 25% siswa
2
Kurang Baik
Jika deskriptor yang diamati tampak pada 25% - 49% siswa
3
Baik
Jika deskriptor yang diamati tampak pada 50% - 74% siswa
4
Sangat Baik
Jika deskriptor yang diamati tampak pada ≥ 75% siswa
Tabel 2. Pedoman Penskoran Kegiatan Guru
Skor
Keterangan
1
Jika kegiatan guru tidak baik
2
Jika kegiatan guru kurang baik
3
Jika kegiatan guru baik
4
Jika kegiatan guru sangat baik
Selanjutnya skor hasil observasidikonversi menjadi nilai standar kriteria dengan patokan:
Tabel 3.Patokan Kriteria Penilaian Aktivitas (Sudijono, 1983:86)
Patokan
Keriteria
Ak ≥ Mi + 1,5 Sdi
Sangat Baik
Mi + 0,5 SDi ≤ Ak < Mi + 1,5 Sdi
Baik
Mi – 0,5 SDi ≤ Ak < Mi + 0,5 SDi
Kurang Baik
Ak < Mi – 0,5 Sdi
Tidak Baik
Analisis data di atas dapat menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
a.    Menentukan Mean Ideal
                                                                          (Nurkancana, 1983:86)
Keterangan:
Mi  = Mean Ideal
SMi = Skor Maksimal Ideal
b.    Menentukan Standar Deviasi
                                                                           (Nurkancana, 1983:86)
Keterangan:
Mi  = Mean Ideal
SDi = Standar Deviasi Ideal                
Melalui konversi skor hasil observasi menjadi kriteria dan dengan langkah menentukan Mean Ideal serta Standar Deviasi maka untuk aktivitas guru dan siswa didapatkan skor tertinggi untuk masing-masing dari 15 (lima belas) deskriptor adalah 4 (empat) dan skor terendah adalah 1 (satu) maka skor maksimalnya 60 (enam puluh).Sehingga dapat dikonversi ke dalam patokan kriteria yang selanjutnya menjadi pedoman sebagai berikut:
Tabel 4. Hasil Konversi Patokan Kriteria Penilaian Aktivitas
Konversi
Keriteria
Ak ≥ 30 + 1,5 (10)
= Ak  ≥ 45
Sangat Baik
30 + 0,5 (10) ≤ Ak < 30 + 1,5 (10)
= 35 ≤ Ak < 45
Baik
30 – 0,5 (10) ≤ Ak < 30 + 0,5 (10)
= 25 ≤ Ak < 35
Kurang Baik
Ak < 30 – 0,5 (10)
= Ak < 25
Tidak Baik
2.    Data Hasil Belajar Siswa.
a.    Nilai Individu
Penentuan nilai tes hasil pada penelitian ini menggunakan acuan kriterium,dengan rumus sebagai berikut:
Nilai  =
Jumlah Skor Perolehan
× 100
Jumlah Skor Maksimal
(Sudijono, 2009:318)
b.    Ketuntasan Klasikal
Analisis ketuntasan klasikal dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
KB       : Ketuntasan Belajar.
P          : Banyaknya siswa yang mendapat nilai 75 ke atas (standar nilaiketuntasn belajar
perorangan/KKM).
N         : Jumlah siswa yang mengikuti tes.
4.       Hasil Penelitian dan Pembahasan
Adapun hasil dari pendekatan kontekstual yang diterapkan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
Tabel 5. Rekapitulasi Data Hasil Penelitian
No.
Aspek
Skor tiap Siklus
I
II
1
Aktivitas Guru
36
47
2
Aktivitas Siswa
34
45
3
Ketuntasan Klasikal
74,07%
85,19%
Berdasarkan hasil analisis data, dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.    Aktivitas Siswa
Pada siklus I, skor aktivitas siswa sebesar 34 termasuk dalam kategori kurang baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan banyak siswa kelihatan bingung atas pertanyaan apersepsi yang dilontarkan guru. Bekerja dalam kelompok belum terlihat karena siswa yang tidak memegang model jam terlihat acuh. Banyak siswa yang terlihat bingung dalam menentuan sudut yang ditunjukkan oleh jarum jam. Keberanian memutuskan hasil kerja juga belum terlihat, para siswa masih belum berani atau masih bergantung pada keputusan guru untuk mendapatkan pernyataan salah atau benar. Guru memberikan kesempatan siapa yang ingin bertanya tentang langkah penyelesaian lembar kerja namun siswa tidak merespon sehingga guru beranggapan bahwa siswa mengerti tentang langkah kerja karena sudah jelas dicantumkan di lembar kerja. Setelah kesempatan kerja dimulai, maka setiap kelompok memanggil dan menanyakan langkah penyelesaian lembar kerja kepada guru. Hal ini menunjukkan kemampuan memahami bahasa prosedur/perintah perlu diasah dan dibiasakan. Setelah waktu penyelesaian lembar kerja selesai maka selanjutnya mempresentasikan hasil. Guru menunjuk beberapa siswa secara bergiliran untuk mempresentasikan hasil kelompoknya karena dari siswa tidak ada yang berani dan percaya diri. Padahal hasil kerja siswa rata-rata dalam kategori baik bahkan sangat baik. Begitu juga dengan siswa yang sebagai audiens, pada waktu temannya menyampaikan presentasi hasil juga kurang memperhatikan karena hanya terbiasa memperhatikan penjelasan guru dan tidak terbiasa memperhatikan teman sebayanya terlebih dalam mengomentari penyampaian temannya. Faktor penyebab yang bisa dipetik dari keadaan aktivitas siswa yang kurang baik pada siklus satu ini adalah karena kebiasaan cara belajar mereka sebelumnya yang belum disentuh oleh pendekatan kontekstual.
Pada siklus II, skor aktivitas siswa sebesar 45 termasuk dalam kategori sangat baik. Hal ini tampak pada kegiatan tanya jawab langkah-langkah penyelesaian lembar kerja sangat antusias, siswa menyelesaikan lembar kerja dengan baik karena setiap siswa memiliki lembar kerja dan mempresentasikan hasil kerja dengan semangat tinggi, siswa dapat menjawab pertanyaan dengan baik serta mampu merumuskan masalah, siswa mendemonstrasikan di depan kelas dan siswa lain mendemonstrasikan juga di tempat duduknya sehingga siswa terlihat aktif karena setiap siswa dapat mengalami sendiri, diskusi kelompok terlihat aktif dan siswa dengan bimbingan guru dapat menyimpulkan pelajaran serta membuat jurnal di buku masing-masing.
Dari skor perolehan pada siklus II ini, penelitian dapat dinyatakan  berhasil karena telah mencapai indikator keberhasilan.
2.    Kegiatan Guru
Pada siklus I, skor kegiatan guru sebesar 36 termasuk dalam kategori baik. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan seperti guru mengajukan pertanyaan dalam rangka merumuskan masalah kurang variatif, belum maksimal menyampaikan kompetensi/tujuan pembelajaran, menyediakan model dan LKS dalam jumlah terbatas sedangkan jumlah siswa dalam kelompok 4-5 orang, Guru kurang maksimal memberikan rangsangan untuk tanya jawab langkah-langkah penyelesaian lembar kerja, menunjuk perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil dan mengabaikan kelompok yang lain yang ingin maju dan belum maksimal dalam mengajukan pertanyaan untuk penggiringan siswa membuat kesimpulan.
Pada siklus II,  skor kegiatan guru sebesar 47 termasuk dalam kriteria sangat baik. Hal ini tampak pada mengajukan masalah kontekstual kepada siswa serta mengajukan berbagai pertanyaan dalam menemukan penyelesaian masalah kontekstual, memaparkan tujuan pembelajaran dengan baik karena selain tanya jawab dengan siswa juga menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis, memberikan kebebasan menanyakan apa yang belum dipahami khususnya tentang langkah-langkah menyelesaikan lembar kerja. Selain itu, guru membagikan lembar kerja untuk setiap siswa, membimbing siswa menggambar dan mengukur besar sudut dengan busur derajat dan memberikan kebebasan kepada perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja dan secara umum dalam kegiatan akhir sudah baik seperti siswa sudah dapat menyebutkan dengan sangat baik penggunaan pengukuran sudut dalam kehidupan sehari-hari, siswa dengan bimbingan guru dapat menyimpulkan pelajaran dan siswa membuat jurnal di buku masing-masing.
Dari  skor perolehan siklus II skor kegiatan guru adalah 47 dengan kriteria sangat baik. Secara umum, kenaikan skor kegiatan guru dalam tindakan disebabkan karena guru makin terbiasa dengan proses pembelajaran pendekatan kontekstual dan mulai memahami karakter dan sikap siswa terhadap pendekatan yang diterapkan sehingga pada setiap perencanaan pembelajaran lebih matang.
3.    Hasil Siswa
Indikatorkeberhasilanuntukhasilbelajar, yaitusekurang-kurangnya 75% siswamemperolehnilailebihbesaratausamadengan KKM. Untukkelas V/A SDN 2 Beleka KKM Matematikaadalah75. 
Pada siklus I, ketuntasan klasikal mencapai 74,07%. Dari persentase tersebut tampak ketuntasan belajar klasikal belum mencapai 75% sehingga pada tindakan siklus I ini belum berhasil. Jika diperhatikan dari hasil jawaban siswa maka dapat dinyatakan bahwa siswa yang memiliki nilai standar ke atas adalah yang aktif dalam kerja kelompok dan pada umumnya para ketua dan juru tulis kelompok.Akibatnya pada proses pembimbingan yang dapat mengoneksi arahan dan kerja adalah yang mendominasi kelompok sedangkan yang lainnya sekedar mengikuti dan inilah yang memiliki nilai di bawah standar atau rendah.
Hasil pada siklus II mengalami peningkatan, yaitu ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 85,19%. Dari persentase tersebut tampak ketuntasan belajar klasikal sudah melampui 75% sehingga pada tindakan siklus II ini berhasil.
Setelah tindakan diperbaiki dan dimaksimalkan pada siklus pembelajaran berikutnya maka berimplikasi pada aktivitas setiap siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
5.       Kesimpulan dan Saran
5.1.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pengukuran sudut di kelas V/A SDN 2 Beleka tahun pelajaran 2016/2017 dapat dilakukan dengan cara menerapkan pendekatan kontekstual. Peningkatantersebutdapatdilihatdari :
1.    Aktivitassiswapadasiklus I adalahkurangbaikdenganskor34meningkatpadasiklus II menjadisangatbaikdenganskor45.
2.    Kegiatan guru padasiklus Isudahbaikdenganskor36, meningkatpadasiklus II menjadisangatbaikdenganskor 47. 
3.    Ketuntasanbelajarklasikalsiswapadasiklus I adalah 74,07% meningkatpadasiklus II menjadi85,19%.
5.2.  Saran
Berdasarkan hasil yang dicapai dalam penelitian ini maka saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :
a.    Kepada pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan terdepan di masyarakat hendaknya memberikan fasilitas dan membiasakan mengadakan penelitian-penelitian tindakan dalam menerapkan pendekatan pembelajaran seperti pendekatan kontekstual guna meningkatkan hasil pembelajaran dan mempersiapkan siswa yang berkualitas.
b.    Diharapkan kepada para pembelajar seperti guru yang menerapkan pendekatan kontekstual untuk memberikan kepercayaan kepada siswa dalam menyelesaikan belajarnya.

Daftar Pustaka
Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Sinar Grafika
Nurkancana, Wayan, dkk. 1983. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Sudijino, Anas. 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Trianto. 2007. Model–model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Komentar